TaK PeRNah terGanTiKan

Posted in Uncategorized on March 24, 2008 by memeyxname

hari ini kulalui bersamamu…

senyum dan tawa terpancar dimatamu dan dimataku…

tak pernah ku bersedih karena kamu disisiku..

Reff: : kini luka yang menyelimutiku, air mata membasahi pipiku

          kau pergi jauh, tinggalkan diriku…oh,,sakitnya aku…

          berilah waktu untukku tuk bersamamu..

          tuk dapat kesempatan yang indah itu..

          ku ingin selalu bersamamu..jalani waktu-waktu itu..

          tak pernah tergantikan dirimu…

          oh…sayangku.

                                             created by: me2y

Posted in Uncategorized on March 8, 2008 by memeyxname
cinta terlarang
ku ingin mencintaimu seutuhnyatak ada orang yang akan menentangnya

tapi apalah daya ini, semua itu tak ada gunanya

hubungan ini tak bisa kita teruskan lagi

cinta kita tak diijinkan untuk bersemi lagi

ingin rasanya aku memberontak,,,

tapi itu tetap tak bisa ku lakukan

dan biarlah cinta ini terpendam jauh dilubuk hatiku,,,

created by : me2y

 

Not so NEET Japanese Youth

Posted in Uncategorized on March 4, 2008 by memeyxname

Not so NEET Japanese Youth

Budaya pop anak muda Jepang telah memberikan inspirasi dan impresi bagi banyak orang di seluruh dunia, dari Gwen Stefani sampai juri Academy Awards. Namun di balik hip-nya Harajuku, manga dan J-Pop, generasi muda itu menyimpan kegelisahan yang dalam, jika tidak ingin disebut destruktif.

Oleh Hera Diani

Angin bertiup kencang di kampus Keio University di Tokyo saat itu dan kami, jurnalis yang rata-rata datang dari negara dunia ketiga yang beriklim tropis mulai menggigil. Eri Miyoshi, mahasiswi S1 jurusan ekonomi di universitas tertua di Jepang yang ditunjuk sebagai chaperone itu tertawa kecil melihat keadaan kami.

“Ini sama sekali belum terasa dingin buat kami,” ujar Eri, dengan bahasa Inggris logat Amerika yang lancar, sisa-sisa menjadi peserta pertukaran pelajar. Ia, seperti layaknya anak muda Jepang, sangat keren dan trendi, dengan rok mini dan sepatu bot, dan sesekali bercanda dengan kawan-kawannya yang juga tampak sangat stylish tapi juga quirky, khas anak muda Jepang.

Melihat mereka sekilas, sepertinya anak muda Jepang had it all good. Datang dari negara maju dan kaya di mana cuma ada dua kelas ekonomi, kelas atas dan kelas menengah, tidak ada kelas bawah di Jepang. Anak-anak muda Jepang pun dikenal kreatif dan punya gaya sendiri, dengan budaya pop yang menginspirasi dunia.

Namun di balik itu semua, bahkan Eri dan kawan-kawan pun menyimpan kegelisahan. Selain ketatnya persaingan dan sistem pembelajaran di universitas, setelah lulus, persaingan pun semakin tajam ditambah budaya dan beban di tempat kerja yang begitu berat, dengan jam kerja yang panjang.

“Meski kami mahasiswa universitas terkemuka, tapi belum tentu juga kami akan mudah mendapat kerja. Banyak teman kami yang tidak kunjung mendapat pekerjaan, akhirnya malah menjadi NEET,” kata Eri.

Apa pula itu?
Pertama kali dilontarkan di Inggris, NEET merupakan singkatan dari ‘Not currently engaged in Employment, Education and Training’, alias orang-orang yang tidak sedang bersekolah, bekerja atau ikut pelatihan serta tidak menikah.

Jika tidak melakukan aktivitas-aktivitas tersebut, jadi apa yang mereka lakukan sehari-hari? Ya, nongkrong-nongkrong gitu deh. Atau diam seharian di rumah (orang tua), bahkan mengunci diri di dalam kamar.

Di Jepang, fenomena NEET ini telah memunculkan isu sosial dan ekonomi yang serius karena kurang lebih satu dari 40 orang dari kelompok umur 15 sampai 34 tahun atau sekitar 850,000 orang menurut data 2004 tergolong NEET. Diperkirakan jumlah itu akan terus bertambah menjadi 984.000 pada 2010. Belum lagi ada sekitar dua juta orang muda yang lebih suka jadi freeters alias loncat dari satu pekerjaan paruh waktu ke pekerjaan paruh waktu lainnya, ditambah sekitar 650.000 orang lainnya (data lain mematok angka 1,46 juta) yang pengangguran.

Semua masalah ini tentunya meresahkan karena bisa merusak ekonomi negara berpenduduk 128 juta itu. Anak-anak muda yang seharusnya produktif (60 persen NEET berusia 25-34 tahun) dan menyumbang pada pendapatan negara, salah satunya dengan membayar asuransi, malah ada di posisi menerima bantuan keuangan. Lebih lanjut lagi, gejala ini dikhawatirkan akan meningkatkan pemakaian narkoba, kriminalitas, dan memunculkan kelas ekonomi bawah yang tadinya tidak ada di Jepang.

NEET dan Latar Belakang
Ada beberapa jenis NEET yang dikategorikan oleh para peneliti di Japan Institute for Labor Policy and Training, yaitu tipe anti sosial dan hedonistik; tipe penarik diri, yang tidak mampu membangun relasi dengan masyarakat dan sebagai gantinya menutup diri; tipe ‘paralyzed’, yang berpikir terlalu keras dalam mencari pekerjaan dan malah menghadapi jalan buntu; dan tipe cepat menyerah, yaitu yang sudah pernah bekerja namun tidak lama kemudian keluar dari pekerjaannya dan alhasil kehilangan kepercayaan diri.

Kei Kudo, salah satu pendiri Master & Pupil (MP) yang mengorganisir NEET, mengatakan bahwa banyak NEET yang sangat tertekan karena tidak kunjung mendapat pekerjaan sampai terkena penyakit kulit dan gangguan jiwa.

“Yang termasuk NEET ini ada juga perempuan-perempuan muda yang harus tinggal di rumah untuk mengurus kakek neneknya (Jepang memiliki populasi berusia sepuh yang sangat tinggi, tapi itu soal lain). Ada juga lulusan-lulusan dari luar negeri yang kesulitan berintegrasi dengan masyarakat,” katanya.

Namun Kudo menolak prasangka bahwa NEET adalah sekumpulan anak-anak manja yang terbiasa hidup enak dan tidak mau susah, karena banyak di antara mereka juga bukan anak-anak orang kaya.

“Persoalan NEET bukan sekedar anak-anak manja yang tidak mau berjuang, tapi lebih dari itu. Ada persoalan psikologis yang membuat mereka menarik diri dari masyarakat dan memilih tinggal di rumah daripada mencari pekerjaan,” ujarnya baru-baru ini saat kami bertemu di Tokyo.

Mariko Fujimoto, direktur riset di lembaga penelitian Hakuhodo Inc. Institute of Life and Living, berkata bahwa kemunculan NEET dilatarbelakangi salah satunya oleh masalah ekonomi. Sepuluh sampai 12 tahun terakhir ini, menurut Fujimoto, merupakan periode yang turbulen bagi ekonomi negara matahari terbit itu, meski Jepang masih termasuk negara terkaya di dunia.

Dalam periode ini, ada perusahaan-perusahaan yang mendapuk untung, tapi banyak juga yang merugi dan akibatnya banyak yang harus mem-PHK karyawan-karyawannya. Selain itu, teknologi robot juga mengambil alih sehingga proses manufaktur di Jepang tidak lagi terlalu memerlukan tenaga manusia. Banyak juga perusahaan yang lebih memilih melakukan produksinya di negara lain. Jadi, desain bisa saja dilakukan di Jepang, tapi pabrik didirikan di luar Jepang.

“Generasi muda sekarang menghadapi situasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya yang mencicipi masa ‘booming economy’. Anak-anak muda berusia 20-30 tahun sekarang ini merupakan kelompok pertama yang mengalami masa resesi panjang. Dan meski mereka mendapatkan pendidikan bermutu, banyak yang sulit mencari pekerjaan ketika lulus SMA dan universitas,” kata Fujimoto saat ditemui di kantornya yang juga merupakan biro iklan besar.

Pasar tenaga kerja menjadi sangat kompetitif dan sangat tidak stabil bagi anak muda. Banyak perusahaan yang lebih memilih mempekerjakan pegawai paruh waktu agar tidak usah memberikan asuransi dan pesangon.

Di lain pihak, bukan hanya resesi yang menyebabkan sulitnya lapangan pekerjaan, tapi ada juga masalah ketidakselarasan antara dunia pendidikan dan industri.

“Ada lulusan-lulusan yang oversupply, misalnya dari jurusan teknik, sains lingkungan, kajian Asia, ekonomi dan sosiologi. Para lulusan juga tidak terlatih dan tidak dipersiapkan untuk kebutuhan industri. Hal ini menyulitkan Jepang yang ingin lebih jauh terlibat dalam ekon” kata Fujimoto.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, Sains dan Teknologi, Nariaki Nakayama mengatakan bahwa kompetisi pendidikan yang ketat juga berkontribusi dalam menghasilkan NEET ini.

“Dulu kita mengajarkan di sekolah bahwa kompetisi itu tidak baik. Tapi nyatanya begitu kita bekerja, kita dihadapkan pada kompetisi super ketat, dan anak-anak jadi bingung karenanya. Bukankah pendidikan saat ini menghasilkan gelombang NEET dan freeters yang besar?” ujarnya tahun lalu.

Produk pemanjaan orang tua
Meski Kudo menolak stigma NEET sebagai anak manja kaya, namun diakui banyak ahli bahwa sebagian NEET memang produk pola asuh dari orang tua yang terlalu memanjakan anak-anaknya.

Menurut Fujimoto, kebanyakan dari kelompok NEET ini datang dari keluarga dengan jumlah anak yang lebih sedikit dari generasi sebelumnya, dengan orang tua yang cukup berada dan sanggup membiayai pendidikan berkualitas.

“Para orang tua tersebut saking sayangnya pada anak-anak mereka, tidak memaksa anak-anaknya untuk langsung bekerja setelah lulus. Mereka senang-senang saja mengakomodasi anak-anaknya untuk sementara sehingga banyak anak muda yang masih tinggal bersama orang tuanya,” katanya.

Para orang tua itu mendorong si anak untuk mencari ‘passion’ nya, dan meminta mereka untuk tidak bertahan dalam pekerjaan yang tidak mereka senangi.

Pola pengasuhan ini ternyata berbalik menyesatkan anak-anak muda itu. Alih-alih mencari passion hidupnya, mereka malah tidak tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup mereka.

“Anak-anak muda ini juga tidak merasa ada masalah jika mereka tidak bekerja. Para orang tua mereka patut disalahkan karena tidak berhasil mengajarkan anak-anak mereka makna dari bekerja,” ujar presiden Hosei University, Tadao Kiyonari, suatu waktu.
Atau dalam istilah salah seorang kawan, jurnalis Amerika yang sempat bertugas di Jepang selama lebih 20 tahun, “Young Japanese are not ‘hungry’ anymore.”

Solusi untuk NEET
Prof. Akira Takanashi dari Shinshu University pernah mengatakan bahwa “Fenomena NEET merupakan pemberontakan anak muda terhadap tatanan masyarakat secara diam-diam. Jika dulu pada periode 1960an-1970an para mahasiswa memberontak secara sadar dan melakukan protes, karakteristik dari NEET sekarang ini adalah mereka tidak sadar telah melakukan protes (unconscious quality).”

Ia menambahkan bahwa masyarakat, termasuk sektor industri dan pendidikan, bertanggung jawab memecah fenomena ini. “Sekolah sangat kurang memberikan informasi pendidikan kerja,” katanya.

Pemerintah Jepang sendiri pada 2005 sudah membentuk satu komite untuk membangun strategi dalam menolong anak muda menjadi lebih mandiri dan bisa menyelesaikan masalah-masalah mereka. Ada juga usulan untuk membangun sekolah di mana anak-anak muda bisa mendapatkan keterampilan dasar, dengan format seperti ‘training camp.’
Kalangan industri juga sudah mulai memiliki perhatian terhadap masalah NEET. Kenzaburo Mogi, vice chairman dari Kikkoman Corporation, mengatakan bahwa industri juga turut bertanggung jawab karena tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup.

“Industri seharusnya melakukan sesuatu bersama dengan pemerintah, misalnya dengan melakukan pelatihan,” ujar Mogi, meski ia mengakui perusahaan tempat ia bernaung belum memiliki program untuk NEET.

Sementara itu, Kei Kudo dengan Master & Pupil-nya (www.sodateage.net) yang dibentuk 2001 berusaha membantu anak muda mendapatkan pekerjaan lewat pelatihan kerja serta pelayanan konseling.

Namun program di MP ini tidak gratis, karena biaya tiap peserta per bulannya sekitar 50.000 Yen per bulan atau sekitar Rp 10 juta, meski setengahnya disubsidi pemerintah. Pelatihan yang diberikan di antaranya pelatihan untuk sektor pertanian, informasi teknologi dan manufaktur.

Sejauh ini, menurut Kudo, sudah ada sekitar 10.000 – 15.000 orang yang sudah mendapatkan pelatihan dan bekerja di kantor pemerintahan atau swasta.

“Organisasi kami masih terbatas dalam menjangkau NEET dan menyediakan aktivitas dan kesempatan untuk mereka. Kami percaya dan merekomendasikan bahwa membangun jaringan dengan komunitas akan membantu para NEET,” ujar Kudo.

Yang penting menurut Prof. Takanashi adalah masyarakat tidak memandang sebelah mata pada para NEET ini.

“Tidak ada gunanya menyalahkan NEET dan memberitahu mereka supaya berhenti bersikap seperti anak kecil. Yang paling penting adalah supaya masyarakat berubah dan lebih dekat dengan anak-anak muda ini.”

INDONESIA: Female condom programme falters

Posted in Uncategorized on March 4, 2008 by memeyxname

JAKARTA, 28 August 2007 (PlusNews) – Ningsih [not her real name], 22, was taken aback when she was handed a pack of two female condoms in Jakarta, capital of Indonesia, but was even more surprised when she opened one. Measuring 17cm long and 7cm in diameter with a sponge attached inside, the female condom is indeed large compared to a male condom.

“My, it’s so huge. Will it be painful using it?” asked the self-professed freelance sex worker, who was hanging out at a sidewalk stall in the Pramuka area of East Jakarta, a well known pick-up spot.

She told IRIN/PlusNews she was not willing to try the female condom; she was fine with a tri-monthly contraceptive injection, which kept her from getting pregnant.

What about sexually transmitted infections (STIs)? “I heard condoms might prevent that, but most of the clients don’t want to use them, and I don’t dare to insist, although I sometimes provide them,” she said. “If a client ejaculates inside me I wash with Betadine,” she added, referring to a popular feminine hygiene product.

Indonesia has worked hard to increase condom use but, hampered by a strong patriarchal culture and a sporadic approach to promoting them, the results have been disappointing.

Data from the nonprofit public health organisation, Family Health International, puts Indonesia at the bottom of a list ranking condom usage in Asian countries.

According to official statistics from June 2007, the country’s HIV infection rate has reached around one percent, with 5,813 recorded cases of people living with HIV and another 9,689 people living with AIDS, but experts estimate that the real number of HIV-infected Indonesians is between 90,000 and 250,000 out of a population of 223 million.

While HIV infection rates are highest among injecting drug users (IDUs), sex workers and their clients, government officials estimate that 20 percent to 30 percent of infections occur during unprotected sex.

“We’ve done campaigns to increase [male] condom use and failed. We’re facing an alarming situation at the moment, with the general population becoming infected,” Sri Kusniyati, deputy secretary of the National AIDS Commission, told IRIN/PlusNews

HIV infections have already become generalised in the easternmost province of Papua. In this remote mountainous area, where levels of awareness are low and condoms difficult to access, more than two percent of the 2.5 million population are estimated to be HIV-infected.

Some encouragement

The government ran a trial of female condoms in selected areas of Papua in August 2006. According to Kusniyati, women who tried the condoms said they and their husbands enjoyed using them.

Encouraged by the positive feedback from the trial, the government launched a national female condom programme in February 2007. Six months later, however, the programme has been criticised for poor distribution and supply, the high price of the condoms (15,000 rupiahs, or US$1.60 for a pack of two), and even for discriminating against women.

“It has been a year since the female condom was distributed in Papua but, until today, not even one condom can be accessed by our group and we’re based in the provincial capital [Jayapura], not in a remote area,” said Robert Sihombing of the Jayapura Support Group, a local organisation that provides food packages, financial assistance and emotional support to local people living with HIV/AIDS.

Activists have slammed the programme for, once again, putting the burden on women. “The campaign against HIV/AIDS in this country is often discriminatory,” said activist Mukhotib MD from Magelang, a city in Central Java Province.

“In East Nusa Tenggara Province [in the eastern portion of the Lesser Sunda Islands, consisting of 550 islands], for instance, fishermen are called on not to have sex with sex workers without using a condom, but there’s no mention in the campaign of not having sex with their wives without using condoms,” he said.

“We’re afraid that 10 years from now, if HIV infections remain uncontrolled, then women will be blamed, when in fact it’s the whole problem of social construction which positions men with the rights to sex and women with the duty to serve them,” Mukhotib added.

Kusniyati, of the National AIDS Commission, said the female condom programme was launched to give women more options and to empower them, not to discriminate against them. The Commission was currently training campaigners in six provinces, not only to promote female condoms but also to increase knowledge of HIV/AIDS.

The price of female condoms remained relatively high because they had to be imported, Kusniyati admitted. “We need to push for cooperation with the state Family Planning Coordinating Body, which provides contraceptive products, including condoms, for poor people … [but it] will only launch a female condom programme some time in 2008.”

nonsense

Posted in Uncategorized on March 4, 2008 by memeyxname

yesterday i was at work, when i yet again overheard something that i must blog about. i keep wondering when the day will be that all my racial experiences will be uneventful, but obviously it hasn’t happened yet.

i was in the breakroom, where SINGLEMOMWHITEGIRL is sitting at a table with another BLACKGIRL, talking about how she’s finally found childcare for her biracial /black daughter. the woman she found to do childcare happens to be black as well, by the way. so SINGLEMOMWHITEGIRL is talking about how her live-in white boyfriend (not the father, obviously) wanted to have a say in who does childcare for the daughter. i’m guessing he’s playing the father role. so SINGLEMOMWHITEGIRL relays a conversation she had with her live in boyfriend where he says, ‘i’m glad so-and-so [black lady] is going to be babysitting ______, because she[the child] is so wild, and she needs a good black woman to keep her in line, ’cause black women don’t play’.

SINGLEMOMWHITEGIRL is giggling like she’s pleased that she’s so connected to the black race. the black girl she was talking to laughed about it too as if she agreed.

i wanted so badly to say something like: “oh, because REALLY- all us black women are nothing but neck-rolling, butt-whoopin’, beat-you-down-with-a-quickness-if-you-backtalk type women, riiiiiight.

oh how badly i wanted to say that. and the funny thing was, this white girl is currently on thin ice for some other behavior, and i could have totally intimidated her by calling her out, making her scared of being fired. i’m sure i could easily have her fired. all i’d have to say was that she made a racial remark and it made me uncomfortable. and she’d be gone.

but, i just. didn’t. want. to. if there wasn’t an innocent little girl in the picture with a potentially unemployed single mom, i probably would have. but really. would it have made any difference if i had corrected her? granted, with my personality, i could have put on a phony smile and phony laugh and said something to put her on the spot, without actually grilling her. but as i thought about it, i decided that people’s stereotypes are so deeply ingrained that even if i had said something about it, all it would have done was make her feel uncomfortable. true, she might think differently about that particular scenario, but what about the countless other stereotypes? i seriously doubt she’d really have been enlightened.

she’s a single white mom with a black daughter and probably feels like she has a “free pass” to say things like that. and does she? i’m not sure. i once had a black girlfriend who was married to a white man, and the white man would repeat some words from rap songs occasionally in conversations and he would say the “N” word. sometimes he’d repeat something he heard someone else say using the “N” word. albeit it was hesitantly, but nonetheless he’d say it. and i got the impression that he felt he had a free pass because he was married to a black woman.

should i have spoken up? i know some readers will say i should have. but sometimes i just think that some people truly just don’t know better, and i shouldn’t have to be the one to teach them. i get tired of it. if it seemed like the intent was malicious or something like that, i probably would have. i guess it kinda just made me feel bad, more than anything, that we (black people) just seem to never escape the stereotypes. never

Girls’ Thoughts on Girl Power!

Posted in Uncategorized on March 4, 2008 by memeyxname

“I LOVE your site! It is not like the other sites for girls. You don’t make pressure on us, what do we have to wear if we want to be “in”, what kind of boyfriend is perfect for us and things like that. I really like coming on this site because I always find something new. I can see you’re really working hard to let the girls know what’s right. Thank you for everything I’ve learned and discovered here.”
—Magda (12, Croatia)

Your site is so cool. I would like to do more to be apart of your club. The Web info has helped me a lot to figure out how girls should feel about themselves. It has inspired my mother to start a weekly girl power night. We have just got lots of your info so we are very excited about starting. We will e-mail you with an update. Thanks so much.”

I go swimming a lot and I love to play basketball. Since there is no basketball in the summer, I go swimming. One reason why I go is to keep cool, and the other reason is because I am a junior lifeguard. To stay healthy and still have fun is great!”

To be healthy, I think you should have to eat three healthy meals a day. Some snacking is okay, just as long as you don’t overstuff yourself! You should eat plenty of vegetables, meats, and grains! Keep active! Don’t just sit around all day watching TV! I just play lots of sports and I go out a lot with friends and just have a great time! REMEMBER, laughing burns calories!”

Staying healthy is a great way to feel good about yourself! Beauty is what’s in the inside. If you care about other’s and don’t judge people…that’s beauty to me. You don’t have to have a pretty face or be perfect to a T. Every girl is beautiful in their own way! Just feel good about yourself and know who you are deep down inside!”

I am 19 a year old female and fortunately I made it through the rough years where young girls think they have to impress others to be happy. Your Web site is absolutely wonderful and I hope that many young women will look at it and that read the material you supplied. It’s people like you that help young women realize that it’s ok to be themselves. Keep up the good work.
—Carla

kontroversi ujian nasional

Posted in Uncategorized on March 4, 2008 by memeyxname

Perdebatan mengenai Ujian Nasional (UN) sebenarnya sudah terjadi saat kebijakan tersebut mulai digulirkan pada tahun ajaran 2002/2003. UN atau pada awalnya bernama Ujian Akhir Nasional (UAN) menjadi pengganti kebijakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Hanya, sementara Ebtanas berlaku pada semua level sekolah, UN hanya pada sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), madrasah tsanawiyah (MTs), sekolah menengah umum (SMU), madrasah aliyah (MA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Untuk sekolah dasar (SD), sekolah dasar luar biasa (SDLB), sekolah luar biasa setingkat SD (SLB), dan madrasah ibtidaiyah (MI), Ebtanas diganti dengan ujian akhir sekolah.
Perdebatan muncul tidak hanya karena kebijakan UN yang digulirkan Departemen Pendidikan Nasional minim sosialisasi dan tertutup, tapi lebih pada hal yang bersifat fundamental secara yuridis dan pedagogis. Dari hasil kajian Koalisi Pendidikan, setidaknya ada empat penyimpangan dengan digulirkannya UN.

Pertama, aspek pedagogis. Dalam ilmu kependidikan, kemampuan peserta didik mencakup tiga aspek, yakni pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Tapi yang dinilai dalam UN hanya satu aspek kemampuan, yaitu kognitif, sedangkan kedua aspek lain tidak diujikan sebagai penentu kelulusan.

Kedua, aspek yuridis. Beberapa pasal dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 telah dilanggar, misalnya pasal 35 ayat 1 yang menyatakan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan, yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. UN hanya mengukur kemampuan pengetahuan dan penentuan standar pendidikan yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah.

Pasal 58 ayat 1 menyatakan, evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Kenyataannya, selain merampas hak guru melakukan penilaian, UN mengabaikan unsur penilaian yang berupa proses.

Selain itu, pada pasal 59 ayat 1 dinyatakan, pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Tapi dalam UN pemerintah hanya melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa yang sebenarnya merupakan tugas pendidik.

Ketiga, aspek sosial dan psikologis. Dalam mekanisme UN yang diselenggarakannya, pemerintah telah mematok standar nilai kelulusan 3,01 pada tahun 2002/2003 menjadi 4,01 pada tahun 2003/2004 dan 4,25 pada tahun 2004/2005. Ini menimbulkan kecemasan psikologis bagi peserta didik dan orang tua siswa. Siswa dipaksa menghafalkan pelajaran-pelajaran yang akan di-UN-kan di sekolah ataupun di rumah.

Keempat, aspek ekonomi. Secara ekonomis, pelaksanaan UN memboroskan biaya. Tahun lalu, dana yang dikeluarkan dari APBN mencapai Rp 260 miliar, belum ditambah dana dari APBD dan masyarakat. Pada 2005 memang disebutkan pendanaan UN berasal dari pemerintah, tapi tidak jelas sumbernya, sehingga sangat memungkinkan masyarakat kembali akan dibebani biaya. Selain itu, belum dibuat sistem yang jelas untuk menangkal penyimpangan finansial dana UN. Sistem pengelolaan selama ini masih sangat tertutup dan tidak jelas pertanggungjawabannya. Kondisi ini memungkinkan terjadinya penyimpangan (korupsi) dana UN.

Selain itu, pada penyelenggaraan UAN tahun ajaran 2003/2004, Koalisi Pendidikan menemukan berbagai penyimpangan, dari teknis hingga finansial. Pertama, teknik penyelenggaraan. Perlengkapan ujian tidak disediakan secara memadai. Misalnya, dalam mata pelajaran bahasa Inggris, salah satu kemampuan yang diujikan adalah listening. Supaya bisa menjawab soal dengan baik, peserta ujian memerlukan alat untuk mendengar (tape dan earphone). Pada prakteknya, penyelenggara ujian tidak memiliki persiapan peralatan penunjang yang baik.

Kedua, pengawasan. Dalam penyelenggaraan ujian, pengawasan menjadi bagian penting dalam UAN untuk memastikan tidak terjadinya kecurangan yang dilakukan oleh peserta. Fungsi pengawasan ini diserahkan kepada guru dengan sistem silang–pengawas tidak berasal dari sekolah yang bersangkutan, tapi dari sekolah lain. Tapi, pada kenyataannya, terjadi kerja sama antarguru untuk memudahkan atau memberi peluang siswa menyontek.

Kasus di beberapa sekolah, guru, terutama untuk mata pelajaran yang dibuat secara nasional seperti matematika, bahasa Inggris, atau ekonomi, dengan berbagai modus memberi kunci jawaban kepada siswa. Selain itu, pada tingkat penyelenggara pendidikan daerah seperti dinas pendidikan, usaha untuk menggelembungkan (mark-up) hasil ujian pun terjadi. Caranya dengan membuat tim untuk membetulkan jawaban-jawaban siswa.

Ketiga, pembiayaan. Dalam dua kali UAN, penyelenggaraannya dibebankan pada pemerintah pusat dan daerah melalui APBN dan APBD. Artinya, peserta ujian dibebaskan dari biaya mengikuti UAN. Tapi, pada tingkatan sekolah, tidak jelas bagaimana sistem penghitungan dan distribusi dana ujian (baik APBN maupun APBD). Posisi sekolah hanya tinggal menerima alokasi yang sudah ditetapkan oleh penyelenggara di atasnya. Akibatnya, walau menerima dana untuk menyelenggarakan UAN, sekolah menganggap jumlahnya tidak mencukupi, sehingga kemudian membebankannya pada peserta ujian. Caranya dengan menumpangkan pada biaya SPP atau biaya acara perpisahan.

Sebenarnya, dalam pertemuan dengan Koalisi Pendidikan pada 4 November 2004, Menteri Pendidikan sudah menyatakan ketidaksetujuannya pada UAN dan akan menggantinya dengan ujian masuk pada sekolah-sekolah yang dianggap elite. Apalagi dukungan DPR pun tidak ada. Sebagai bentuk ketidaksetujuannya, Komisi Pendidikan DPR tidak mengalokasikan dana untuk UAN pada tahun 2005.

Sayangnya, tiba-tiba Menteri Pendidikan menggulirkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 1 Tahun 2005 sebagai dasar Departemen Pendidikan Nasional menyelenggarakan UN. Karena secara substansial tidak ada perbedaan signifikan antara UN tahun ajaran 2004/2005 dan UAN tahun ajaran 2002/2003 dan 2003/2004, perdebatan yang sama terjadi kembali.(Ade Irawan, Sekretaris Koalisi Pendidikan, Anggota Badan Pekerja ICW)

global warming

Posted in Uncategorized on March 4, 2008 by memeyxname

Firstly, I do not disagree that the Earth’s temperature is rising. I do disagree that it is being caused by carbon dioxide emissions created by humans. Consider this article in the context of a court presentation. To convict someone you need to be able to prove beyond a reasonable doubt that the allegation is true. Beyond a reasonable doubt.

If there is any doubt that humans are directly altering the latent temperature of the planet then all of the taxation, depopulation and energy price schemes that are being pushed through are being done because of another reason.

The main thrust of this hysteria about man-made global warming stems from the UN IPCC report. In order to give their report credibility to the ignorant masses, the UN frequently mentions that large majority of scientists endorse the report.

This is a lie.

Majority Of Scientists Do Not Support Man Made Warming Theory

…Of 528 total papers on climate change, only 38 (7%) gave an explicit endorsement of the consensus. If one considers “implicit” endorsement (accepting the consensus without explicit statement), the figure rises to 45%. However, while only 32 papers (6%) reject the consensus outright, the largest category (48%) are neutral papers, refusing to either accept or reject the hypothesis. This is no “consensus.”

The introduction and the summary of the IPCC’s report was written entirely by politicians under the mandate of the UN, the input of actual scientists was minimal. In addition, all sections that were written by selected scientists were edited to comply with the report summary.

Some of the scientists involved even admitted that the IPCC models failed to accurately predict climate change and that “none of the climate states in the models corresponds even remotely to the current observed climate”.

MAN-MADE GLOBAL WARMING – IS POLITICS NOT SCIENCE

…Nor are the purveyors of panic giving much notice to the scientists like Dr. Chris Landsea who in his own words, resigned from the IPCC because:

“I personally cannot in good faith continue to contribute to a process that I view as both being motivated by pre-conceived agendas and being scientifically unsound.”

There is PLENTY of doubt about the IPCC report, they are just not reporting it to you. Why? This is even more clear to see when you consider that although most people do not believe in the man made global warming hype the UN and the governments are pushing ahead with these taxes, restrictions and regulations anyway.

The temperature of the Earth has oscillated since it formed, over 4.5 billion years ago. As recently as the seventies, there was the global cooling hysteria which had its proponents screaming from the rooftops about how the Earth was entering into a new ice age, billions are going to die etc.

This cooling has already killed hundreds of thousands of people. If it continues and no strong action is taken, it will cause world famine, world chaos and world war, and this could all come about before the year 2000. — Lowell Ponte “The Cooling”, 1976

If present trends continue, the world will be about four degrees colder for the global mean temperature in 1990, but eleven degrees colder by the year 2000…This is about twice what it would take to put us in an ice age. — Kenneth E.F. Watt on air pollution and global cooling, Earth Day (1970)

That did not stick. So they left it for a few decades and now they are trying to push a new flavour of climate change. Why?

Because the global warming subject is a catalyst for globalists and other elitists to push for sweeping changes to the social, industrial and legal structure of the world. A common fear to scare the global population into acquiescence…

“The threat of environmental crisis will be the ‘international disaster key’ that will unlock the New World Order.” – Mikhail Gorbachev, quoted in “A Special Report: The Wildlands Project Unleashes Its War On Mankind”, by Marilyn Brannan, Associate Editor, Monetary & Economic Review, 1996, p. 5

Now, we have established that the Earth is warming, but why? What can contribute to the rise of this global temperature if it isn’t humans breathing or cows farting?

Before we answer that question, we should take a quick look at basic thermodynamics (which are the laws that govern the behaviour of energy and entropy in a system.) Hot objects emit more energy than they absorb. Cold objects absorb more energy than they emit. That is about as basic as it gets. You can prove this with an experiment at home. Put some water in an ice tray and pop it in the freezer. After a while it will freeze. Obviously. Thermodynamically the freezer is essentially a form of energy vacuum, because it is designed to stay cold (absorb more than it emits) by channeling energy (heat) away from the freezer. The energy level of the water drops as it constantly emits more than it absorbs. The ambient energy level of the freezer is below water’s freezing point, so the energy of the water can drop so low that the water freezes.

Now, take the ice out and put it in a hot oven and you can literally watch the ice melt before your eyes. Why? Well it is the same as the above, but in reverse. Now the system has more energy than the ice. The ice absorbs more than it emits. Its temperature rises until the H2O molecules have enough energy to break the lattice in the ice, and it becomes water again. If it is hot enough, the water will heat up, absorbing more and more energy, eventually boiling off and becoming steam. Steam is a very high energy form of water.

I think we can all agree that this is basic common sense. You wouldn’t stick an ice cube in an oven and come back 30 seconds later to find the inside of the oven looking like Santa’s Grotto. Ever.

Now that is out of the way, lets look at the main source of energy in the solar system.

The Sun.

There is a reason why it is called the Solar System, and that is because the Sun dominates it in every single possible way. Let establish this with some interesting facts about our local mega-ball of plasma.

The sun contains over 99.5% of the mass of the entire solar system.
The sun is over 1 million times bigger than the Earth. Click here for a comparative graphic.
In a single second, the sun generates enough energy to supply all U.S. energy needs for 9,000,000 years.
Global human energy consumption per year = Solar output of less than 1.5 millionths of a second.*
One second of solar output = More than 800,000 years of human energy needs.
The sun is about 92 million miles away. Click here for a comparative graphic. Using the fastest production car ever built, the gorgeous SSC Aero travelling at 256.15 miles per hour, it would take you over 350,000 years.

Reading those facts, it shouldn’t come as much of a surprise to read this:

“Solar energy is energy from the Sun. This energy drives climate and the weather supports virtually all life on Earth.” — Solar energy, Wikipedia.

Now, back to thermodynamics. Let’s say that the solar output goes up. We would expect to see the effects of this throughout the solar system, ‘global warming’ on other planets if you will.

Well, the solar output has been increasing. An obvious effect of the sun getting hotter would be other planets exhibiting signs of global warming. Like Mars, for instance.

Look to Mars for the truth on global warming

The sun’s increased irradiance over the last century, not C02 emissions, is responsible for the global warming we’re seeing, says the celebrated scientist, and this solar irradiance also explains the great volume of C02 emissions.

“It is no secret that increased solar irradiance warms Earth’s oceans, which then triggers the emission of large amounts of carbon dioxide into the atmosphere. So the common view that man’s industrial activity is a deciding factor in global warming has emerged from a misinterpretation of cause and effect relations.”

How about Jupiter?

May 2006: Jupiter’s Great Red Spot is a swirling storm seen for over 300 years, since the beginning of telescopicChristopher Go noticed it had been joined by Red Spot Jr – formed as smaller whitish oval-shaped storms merged and then developed the remarkable reddish hue. This sharp Hubble Space Telescope image showing the two salmon-colored Jovian storms was recorded in April. About half the size of the original Red Spot, Red Spot Jr. is similar in diameter to planet Earth. Seen here below and left of the ancient storm system, it trails the Great Red Spot by about an hour as the planet rotates from left to right. While astronomers still don’t exactly understand why Jupiter’s red spots are red, they do think the appearance of Red Spot Jr. provides evidence for climate change on the Solar System’s ruling gas giant.

SUV’s On Jupiter?

Global warming has finally been explained: the Earth is getting hotter because the Sun is burning more brightly than at any time during the past 1,000 years, according to new research.

The simple fact is that throughout the ages the earth has swung wildly between a warm, wet, stable climate, to a cold, dry and windy one – long before the first fossil fuel was burned. The changes we are now witnessing are a walk in the park compared to the battering that our planet has taken in the past.

This is not a defense of the oil cartels or the Neo-Con wreckers, who would have every motivation to ignore global warming whether it is man-made or not.

MENJADIKAN BUNGA SEBAGAI KOMODITAS ANDALAN

Posted in Uncategorized on March 4, 2008 by memeyxname

Menjadikan Bunga Sebagai Komoditas Andalan
Di bawah kepemimpinan Walikota Jefferson S.M. ‘Epe’ Rumajar, Kota Tomohon terus membenahi dirinya. Berbagai ide brilian dan inovasi Epe’ terus bergulir sebagai komitmennya untuk membangun social-welfare masyarakat seiring dengan tekad mewujudkan visi Tomohon sebagai kota budaya yang indah, beriman, mapalus, demokratis, aman dan ramah lingkungan serta tanpa KKN.
Secara strategis dan taktis, untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat, Epe’ menangkap peluang di sektor florikultura sebagai prime mover roda ekonomi tersebut.
Hal ini tentu didasari pada budaya menanam bunga yang telah mendarahdaging di sebagian masyarakat Kota Tomohon, selain karena kondisi agroklimat yang menunjang, bahkan ketersediaan plasma nutfah yang menjamin terus eksistensi tanaman hias. Bahkan permintaan pasar yang meluas dan nilai ekonomi tinggi yang diperoleh di sektor florikultura merupakan garansi yang realistis.
Gayungpun bersambut. Secara antusias masyarakat merespons komitmen Jefferson S.M. Rumajar. Ini dibuktikan dengan semakin maraknya gerakan menanam bunga dan berbisnis tanaman hias. Mulai dari halaman rumah, ruang tamu, halaman kantor, ruangan kantor, pokoknya apa saja space yang tersedia untuk berkreasi dengan bunga hidup, dimanfaatkan sebaik-baiknya. Berbagai kelompok organisasi mulai dari Dharma Wanita, PKK, Kelompok Tani, Kelompok Pemuda dan Pelajar, secara antusias akrab dengan bunga. Pokoknya tiada hari tanpa bunga.
Keberhasilan penyelenggaraan Festival Bunga (Tournament of Flowers-ToF) tahun 2006 dan 2007 memberikan motivasi dan inspirasi untuk lebih memberi nilai tambah event ini dikaitkan dengan Program Pengembangan Pariwisata Sulawesi Utara. Walikota Jeffferson S.M. Rumajar dalam berbagai kesempatan mensosialisasikan hal ini sebagai suatu Grand Strategi menuju Tomohon Flower Festival 2008 (TFF 2008). Bahkan ToF dalam TFF 2008 merupakan bagian dari 12 agenda yang disiapkan.
Secara keseluruhan rangkaian kegiatan TFF 2008 yang akan digelar medio 2008 meliputi: Tournament of Flowers, Seminar Florikultura Nasional, Pameran Bursa dan Lomba Tanaman Hias, Kontes Ratu Bunga, Pameran dan Lomba Fotografi, Pasar Bunga/Bursa Bunga, Food Festival, Pagelaran Seni Budaya dan Festival Musik, Kontes Desa Indah, Demo dan Lomba Merangkai Bunga, Fashion Show, dan Kontes Paduan Suara antar Gereja..
“Dengan sendirinya diharapkan ada multiplier effect dalam TFF 2008. Yaitu adanya efek ikutan yaitu pelaku di sektor industri, efek tak langsung khususnya di jasa travel, transportasi, hotel, restoran, dan sebagainya, dan efek langsung di sektor pertanian dan pariwisata. Bahkan pada gilirannya ini semua merupakan elemen pendukung program World Ocean Conference 2009,” ungkap Walikota Rumajar di berbagai kesempatan melakukan sosialisasi dan presentasi TFF 2008.
Bahkan Ketua Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO) Karen Sjarief-Tambajong memberikan jaminan bahwa bunga dapat dijadikan devisa untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. “ Di berbagai negara seperti Belanda, bahkan negara-negara di Afrika dan Amerika Latin, bunga sudah menjadi bagian hidup masyarakat di sana.” tutur Karen Sjarief-Tambajong. Karena itu “tante” Karen optimis bahwa tekad Pemerintah dan masyarakat Kota Tomohon untuk menjadikan bunga sebagai prime mover gerak ekonomi di kota ini merupakan hal yang realistis.
Di sisi lain, menyiapkan segala sesuatu untuk penyelenggaraaan TFF 2008 terus digulirkan. Melalui Dinas Pertabunakan kota Tomohon dibentuk kelompok tani yang berkutat di sektor tanaman hias. Saat ini sudah terbentuk 62 kelompok, dan angka ini akan terus bertambah seiring dengan berbagai kebijakan dan apresiasi yang diberikan Pemerintah Kota Tomohon terhadap kelompok-kelompok ini.. Dengan luas tanam 64,43 Ha, kelompok tani ini menanam berbagai tanaman hias seperti gladiol, krisan, anyelir, kerklily, anthurium, amarilis, rosida, anggrek, aster, mawar dengan total produksi sebanyak 5.041.588 tangkai. Ditargetkan, untuk memenuhi permintaan pasar dan penyelenggaraan ToF 2008 maka harus ada peningkatan produksi yang signifikan, yaitu 10.000.000 tangkai.
Upaya memacu produksi 10.000.000 kuntum bunga dipersiapkan sejak dini. Selain membentuk kelompok tani dan berbagai asosiasi, juga dibangun sarana pengembangan teknologi produksi bibit, penyediaan bantuan teknis, membuat kebun percontohan, melakukan pelatihan dan magang florikultura, termasuk pelatihan mendisain kendaraan hias.
Segala kiat terus ditempuh. Termasuk terobosan dengan mengikutsertakan 40 petani bunga mengikuti training of trainers (ToT) di Nursery Floribunda Cibodas Jawa Barat akhir April lalu. Bahkan ketika ToT dilangsungkan, Departemen Perdagangan siap memfasilitasi dan men-support pengembangan industri bunga di Kota Tomohon. “Departemen Perdagangan mendukung program ini termasuk hal-hal yang berkaitan dengan ekspor bunga,” ujar Dirjen Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan, Diah Mulida. Demikian juga Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) yang mendukung sepenuhnya langkah-langkah Pemkot Tomohon mewujudkan Tomohon sebagai sentra industri florikultura dan eksportir bunga khususnya di Kawasan Timur Indonesia.
“Kalender kegiatan TFF 2008 sudah ada. Kesemuanya tentu diharapkan berjalan sesuai rencana. Termasuk di dalamnya penyiapan sarana dan prasarana. Saya optimis ini akan berjalan baik, karena Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Masyarakat mendukung penuh. Presiden, para Menteri, Gubernur se-Indonesia, muspida se-Kabupaten dan Kota di Provinsi Sulut, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara, pelaku bisnis, juga masyarakat umum adalah target pengunjung dalam perhelatan itu tahun depan,” ujar Walikota Jefferson S.M. Rumajar (wenny m. umboh – bagian humas sekdakot tomohon/email: wen-mu@plasa.com/wennym-umboh@hotmail.

Kakaskasen Bakal Jadi Pasar Bunga
Tomohon- Pemerintah Kota Tomohon akan membangun pasar bunga di Kelurahan Kakaskasen Kecamatan Tomohon Utara. pasar bunga ini nantinya diharapkan menjadi sentra penjualan bunga di Sulawesi Utara. menurut Kabag Humas dan protokoler Setdakot Tomohon ODS Mandagi. saat ini pihaknya telah menyiapkan lahan sekitar 2 Ha untuk dijadikan lokasi penjualan pasar bunga. “Untuk pembangunan pasar bunga kita butuh lahan seluas 2 Ha. Dalam RKPD 2008, pasar bunga ini akan dibangun di Kelurahan Kakaskasen. Pasar Bunga yang akan dibangun adalah representatif dimana semua fasilitas akan disiapkan oleh pemerintah,” tegas Mandagi.

Pembangunan pasar bunga ini, lanjut mantan Camat Tomohon Utara ini, merupakan bagian dari persiapan Kota Tomohon sebagai Gerbang Eksportir Bunga di Indonesia. ” Kita hanya menyiapkan lahan untuk pembangunan pasar bunga selanjutnya pembiayaan proyek ini akan didanai oleh pemerintah pusat lewat APBN. Dan usulan itu telah mendapatkan signal positif dari beberapa Departemen yang dimaksud. Dijelaskan, tujuan pengembangan sektor pertanian khususnya sub sektor tanaman hias menjadi prioritas Pemkot karena sektor ini menjadi prime mover perekonomian masyarakat.

“Visi Pak Walikota adalah lewat Bunga, perekonomian masyaraat dapat terangkat. Sebab dari kajian beberapa lembaga yang konsen dengan UKM, ternyata usaha florikultura lebih menjanjikan dibanding sektor lainnya,” urai alumnus STPDN ini. Pada sisi lain, Bunga merupakan crash program Pemkot karena dianggap murah merah namun memberikan jaminan keuntungan yang prospektif. (ona/Tribun Sulut).

konferensi kelautan tingkat

Posted in Uncategorized on February 26, 2008 by memeyxname

 

World Ocean Conference adalah konferensi kelautan dunia yang akan dihadiri oleh para kepala negara yang memiliki wilayah laut dan pantai, peneliti, organisasi non pemerintah, jurnalis, sektor swasta dan pengambil kebijakan untuk mencapai komitmen internasional dalam pembangunan sumber daya laut yang berkelanjutan dan kemakmuran untuk semua umat manusiaWOC is held because of the international agreements and conventions are important and have adequately accepted. However, there is a lack of political willingness to grieve forward and further implement such as agreements. WOC’ 09 will provide a platform where world leaders and decision makers will come together to make commitment for sustainable development of marine resources.

Given the fact that Indonesia the largest archipelago country and possesses the highest marine bio diversity in the world, the conntuk ference will strengthen Indonesia’s participation in the regional and international forum.

Gradual degradation of marine and fisheries resources has been related to over fishing, pollution, less prosperity of coastal and marine communities and climate change. Global effort to stop this trend is urgently required.

World Ocean Conference Topics

  • Impacts of Global Climate Change on Oceans
  • Marine Mega Biodiversity
  • Marine Industries and Services
  • Marine Hazard Mitigation
  • Ocean as the Next Frontier